Salah satu babak dalam sejarah perkembangan Islam adalah periode Dinasti
Ayyubiyah. Dinasti Ayyubiyah berdiri di atas puing-puing Dinasti Fathimiyyah di
Mesir. Di saat Mesir mengalami krisis di Segala bidang maka orang-orang Nasrani
memproklamirkan Perang Salib melawan Islam, yang mana Mesir adalah salah satu
negara Islam yang diintai oleh Tentara Salib.
Shalahuddin Al Ayyubi seorang panglima tentera islam tidak menghendaki
Mesir jatuh ke tangan tentara Salib, maka dengan sigapnya Shalahuddin
mengadakan serangan ke Mesir unutk segera mengambil alih Mesir dari kekuasaan
Fathimiyyah yang jelas tidak akan mampu mempertahankan diri dari serangan
tentara Salib. Menyadari kelemahannya Dinasti Fathimiyyah tidak banyak
memberikan perlawanan, mereka lebih rela kekuasaannya diserahkan kepada
Shalahuddin daripada diperbudak Tentara Salib yang kafir, maka sejak saat itu
selesailah kekuasaan Dinasti Fathimiyyah di Mesir, berpindah tangan ke
Shalahuddin Al Ayyubi.
Shalahuddin Al Ayyubi panglima perang Muslim yang berhasil merebut Kota
Yerussalem pada Perang Slaib itu tak hanya dikenal didunia Islam, tetapi juga
peradaban Barat. Sosoknya begiu mempesona. Ia adalah pemimpin yang dihormati
kawan dan dikagumi lawan. Pada akhir 1169 M, Shalahuddin mendirikan sebuah
kerajaan Islam yang bernama Ayyubiyah.
A. Biografi
Salahuddin Al Ayyubi
Salahuddin Al Ayyubi lahir pada tahun 532 H/1138 M di
Tikrit, Tigris, sebuah kota yang terletak antara Baghdad dan Mosul. Adapun nama
lengkapnya adalah Abdul Muzaifar Yusuf bin Najmuddi bin Ayyub. Nama pendeknya
Salahuddin Al Ayyubi. Ayahnya bernama Najmuddin Ayyub, seorang penguasa Benteng
Tikrit yang berasal dari Suku Kurdi Azerbaijan.
Pendidikan Salahuddin Al Ayyubi dimulai dengan
mempelajari Al Quran, hadits, fikih, bahasa, nahwu, tarikh, dan adab di Syiria.
Dia gemar berolahraga seperti menunggang kuda, dan berburu.
Pada mulanya, Salahuddin kurang begitu dikenal oleh
masyarakat, namun ketika Nuruddin Zanki menguasai Damaskus, ayahnya
memperkenalkannya kepada Nurudin Zanki. Mulai saat itulah ia muncul di depan
publik dan dikenal oleh masyarakat. Terlebih setelah ia terjun kedunia militer.
Dia memperoleh pendidikan militer yang amat baik, mengabdi mengiringi pamannya
Syirkuh, jenderal utama Nuruddin.
Karier Salahuddin mulai terlihat ketika ia pergi ke
Mesir, mendampingi pamannya Asaduddin Syirkuh pada tahun 1164 M. Mereka
menyerang Mesir tiga kali pada tahun 1160-an. Dalam serangan ketiga
ke Mesir, Salahuddin membantu pamannya menggulingkan Wazir Fathimiyyah, Shawar,
menjadikan Shirkuh wazir dan kemudian menggantikan sang paman saat pamannya
meninggal tiga bulan kemudian.
. Sejak itu, timbullah dua keinginan (ambisi) terbesarnya
yaitu mengganti paham Syiah di Mesir dengan paham Sunni dan mengusir tentara
Salib dari wilayah Islam. Setelah Salahuddin diangkat sebagai Perdana Menteri
dengan gelar Al Malik An Nashir, Khalifah Abbassiyah kemudian menyerahkan
wilayah Mesir, Naubah, Yaman, Tripoli, Palestina, Syiria, Maroko ke bawah
kekuasaan Salahuddin.
Khalifah Abbassiyah juga memberinya gelar Al Mu’izz Li
Amiril Mu’minin (penguat kedudukan Amirul Mu’minin). Hal ini
dilakukan setelah Salahuddin menyebut nama Khalifah Abassiyah dalam setiap
khotbah jumat disetiap masjid di wilayah Mesir.
Setelah Salahuddin menguasai Mesir uoaya selanjutnya
adalah mewujudkan kedaulatannya atas wilayah Syiria, dimana Nurudin Zanki pada
tahun 1174 M, Salahuddin memproklamasikan kemerdekaan Mesir. Beberapa
pertikaian dan peperangan harus dilaluinya, dan pundaknya adalah pertempuran
Qurun Hamah. Pada pertempuran ini Salahuddin berhasil merebur Syiria dari
tangan Ismail Al Malik As Salih, anak anak sekaligus pengganti Nuruddin Zanki.
Waktu itu Ismail baru berumur tujuh tahun.
Pada bulan Mei 1175 M Slahudin meminta Khalifah Abassiyah
untuk melantiknya sebagai Sultan (penguasa) atsa wilayah Mesir, Syiria bagian
tengh, Maroko, Nubia, Palestina, Arab Barat. Selanjutnya, Salahuddin
memproklamasikan dirinya sebagai Sultan (penguasa) tunggal untuk wilayah
tersebut. Usaha perluasan wilayah terus dilakukan. Sepuluh tahun kemudian, Mesopotamia
berhasil ditaklukkan sekaligus menjadikan beberapa raja di wilayah tersebut
sebagai pengikutnya.
Sejarah kehidupan Salahuddin Al Ayyub penuh dengan
perjuangan dan peperangan. Hal itu dilakukannya dalam rangka menunaikan tugas
negara untuk memadamkan pemberontakan dan menghadapi tentara Salib yang
berusaha menyerang wilayah-wilayah Silam. Semua peperangan yang dialaminya
berhasil ia menangkan. Salah satu keistimewaan yang dimiliki Salahuddin Al
Ayyubi adalah meskipun ia selalu menang dalam setiap peperangan namun ia
bukanlah pemimpin yang tamak., ambisius, haus kekuasaan dan kekayaan. Pereng
hanya ia lakukan untuk membela dan mempertahankan agama Allah. Selain itu,
Salahuddin Al Ayyubi juga memiliki sikap toleransi yang tinggi terhadap umat
agama lain. Sebagi contoh ketika ia menguasai kota Iskandariyah ia selalu
mengunjungi orang-orang Kristen dan ketika perdamaian tercapai antara
pasukannya dengan tentara Salib, ia mengizinkan orang-orang Kristen utnuk
berziarah ke Baitul Maqdis.
B. Perang Salib
Selain menghadapi pemberontakan dari kalangan sendiri,
Salahuddin al Ayyubi juga menghadapi ancaman yang besar dari Tentara Salib.
Mereka adalah orang-orang Kristen Franka (nenek moyang bangsa Prancis saat
ini). Kekuasaan Salahuddin al Ayyubi yang makin besar dan luas membuat meraka
terancam. Kemudian mereka meminta bantuan kepada bangsa Perancis, Jerman,
Inggris, Bizantium, dan Paus untuk membantu mereka mengusasai kembali
daerah-daerah mereka yang telah dikuasai Salahuddin al Ayyubi, termasuk Baitul
Maqdis (Yerussalem).
Perang melawan Tentara Salib terjadi beberapa kali, yaitu :
1. Perang pertama melawan Amalic I (Raja
Yerussalem)
2. Perang kedua melawan Badwin IV (Putra
Amalic I)
3. Perang ketiga melawan Reginald de
Chatilon (Penguasa Benteng Karak di sebelah timur Laut Mati)
4. Perang keempat melawan Raja Baldwin II
Dalam setiap pertempuran Salahuddin selalu mendapat
kemenangan, sehingga ia dapat menguasai kota-kota penting diantaranya Kota
Tiberas, Nasirah, Samaria, Sudan, Beirut, Batun, Gaza, Hebron, Baitul Maqdis,
Bail al Lahn, dan Gunug Zaitun. Kota-kota tersebut dapat ditaklukkan pada tahun
1187 M dan setelah dikuasai, kemudian Salahuddin al Ayyubi membangun
sekolah-sekolah, rumah sakit, serta membangun kembali Masjidil Aqsha dan
menurunkan salib yang terpasang di atas kubah batu.
Setelah kota Baitul Maqdis (Yerussalem) dikuasai oleh
Salahuddin al Ayyubi pada tanggal 2 Oktober 1187 M maka Paus Gregory
mengumandangkan Perang Salib untuk merebut kembali kota-kota yng dikuasai oleh
Salahuddin al Ayyubi terutama Kota Baitul Maqdis (Yerussalem). Selanjutnya
seruan perang diteruskan oleh Clement II yang menggantikan Paus Gregory. Seruan
ini disambut oleh para penguasa di Eropa. Diantara penguasa/raja Eropa yang
terlibat/membantu dalam Perang Salib melawan Salahuddin al Ayyubi adalah :
1. Raja Philip II (Perancis)
2. Raja Richard I (Inggris), sebutan
lainnya adalan Richard The Lion Heart (Richard yang berhati Singa)
3. Raja William (Sissilia)
4. Kaisar Frederick Barbarussa (Jerman)
Mereka bersekutu
menyerang Salahuddin yang hanya dibantu oleh beberapa pembesarnya serta tentaranya untuk mempertahankan kehormatan Islam.
Dari keempat musuh Salahuddin al Ayyubi di atas,
pertempuran yang paling dahsyat adalah ketika komando tertinggi tentara salib
berada di tangan Raja Richard. Pertempuran terjadi di darat dan di laut,
berlangsung dalam waktu yang cukup lama, yaitu mulai tanggal 27 agustus 1187
sampai 12 juli 1191 M. Pertempuran inilah yang disebut dalam sejarah sebagai
Operasi Militer terbesar sepanjang abad pertengahan.
Dampak yag ditimbulkan akibat perang Salib, antara lain :
1. Kehancuran kaum muslimin beserta
kota-kotanya, kehancuran bagi kaum Kristen Timur dan gereja-gerajanya termasuk
Konstatinopel serta kehancuran bagi kaum Yahudi di sepanjang jalur Perang
Salib.
2. Kebencian antara kaum Kristen Eropa dan
kaum Yahudi, Islam dan Kristen di Timur. Sehingga terbentuk gambaran yang buruk
tentang Islam di mata umat Kristen Eropa.
3. Terjadinya arus budaya masuk dari Timur
ke Barat (dari Islam ke Eropa)
Pasukan Salib membawa pulang ilmu kedokteran, astronomi,
geometri, rumah sakit, seni sastra, peralatan musik, ilmu militer, serta hasil
peradaban yang berkembang di dunia Islam pada waktu itu, kemudian dikembangkan
oleh ilmuwan Barat hingga sekarang.
Setelah pertempuran berjalan bertahun-tahun, usaha menuju
perdamaian akhirnya dilakukan. Perdamaian dimulai dari dinikahkannya adik Raja
Richard I dengan adik Salahuddin al Ayyubi yang bernama al Malikul Adil.
Keduanya dinikahkan dengan menerima Baitul Maqdis (Yerussalem) sebagai hadiah
pernikahan. Pernikahan ini mengakhiri perselisihan antara Kristen dan Islam
pada waktu itu. Pada 2 September 1192 M/588 H, ditandatanganilah perjanjian
di antara pihak Muslim dan Salib yang dikenali sebagai “Perjanjian Damai
Ramallah” di mana Salahuddin al-Ayubi diwakili oleh dua orang puteranya
yaitu al-Afdhal dan juga al-Zahir, selain dari saudara kandungnya sendiri
yaitu Adil.Sebaliknya, Raja Richard pula
diwakili oleh Henry de Champagne, Balian II de Ibelin, Unfroy de IV de
Torun
Isi perjanjian tersebut adalah sebagai berikut :
1. Yerussalem tetap di bawah kekuasaan
Islam dan umat Kristen yang akan berziarah ke Yerussalem tidak boleh diganggu
2. Daerah pesisir Syiria mulai Tyre sampai
Jaffa dikuasai oleh Pasukan Salib
3. Harta rampasan perang umat Kristen
harus dikembalikan kepada mereka.
Setelah perang melawan Tentara Salib selesai, kemudian
Salahuddin al Ayyubi memindahkan pusat pemerintahan ke Damaskus.
Pada hari
Rabu, 27 Safar, 589H, pulanglah Salahuddin ke rahmatullah pada usia 57 tahun.
Bahauddin bin Shaddad, penasihat utama Salahuddin telah menulis mengenai
hari-hari terakhir Salahuddin. Pada malam 27 Safar, 12 hari selepas ia jatuh
sakit, ia telah menjadi sangat lemah. Syeikh Abu Ja'afar seorang yang wara'
telah diminta menemani Salahuddin di Istana supaya jika ia nazak, bacaan Qur'an
dan syahadah boleh diperdengarkan kepadanya.
Pada malam itu telah terlihat tanda-tanda berakhirnya hayat Salahuddin. Syeikh Abu
Jaafar duduk disamping
tempat tidurnyasemenjak 3 hari dan membacakan Qur'an. Salahuddin sering pingsan dansadar dalam waktu singkat.
Apabila Syeikh Au Jaafar membacakan ayat,"Dialah Allah, tiada tuhan
melainkan Dia, Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata" (Al-Hasyr:
22), Salahuddin membuka matanya sambil senyum, mukanya berseri dan dengan nada yang gembira ia berkata, "Memang
benar". Setelah ia mengucapkan kata-kata itu rohnya pun kembali ke
rahmatullah. Pada waktu itu adalah sebelum subuh, 27 Safar.Beliau dimakamkan
di Syiria dekat Masjid Umayyah.
Seterusnya
Bahauddin menceritakan Salahuddin tidak meninggalkan harta kecuali satu dinar
dan 47 dirham ketika ia wafat. Tiada rumah-rumah, barang-barang, tanah,
kebun dan harta-harta lain yang ditinggalkannya. Bahkan harta yang
ditinggalkannya tidak cukup untukbiaya pemakamannya.
Keluarganya terpaksa meminjam uang untuk
menanggung biaya
pemakamannya ini. Bahkan kain kafan pun
diberikan oleh seorang menterinya.
C. Contoh Sikap Keperwiraan Salahuddin Al
Ayyubi
Salahuddin Al Ayyubi merupakan pemimpin yang memiliki
kepribadian dan jiwa keperwiraan yang sempurna. Karena kepribadian dan jiwa
keperwiraannya inilah, ia menjadi salah satu tokoh muslim yang disegani baik
oleh kawan maupun lawan. Ia termasuk dalam jajaran pemimpin teladan di dunia
hingga saat ini. Kepribadian dan keperwiraan Salahuddin dapat kita lihat
melalui catatan-catatan dan fakta-fakta sejarah sebagai berikut :
1. Salahuddin Al Ayyubi dikenal memiliki
jiwa pemurah dan penyayang terhadap pihak yang lemah
Ini terlihat ketika ia rela membebaskan para tawanannya dalam Perang Salib,
tanpa meminta tebuasan sama sekali. Berbeda dengan Richard, raja Inggris pada
waktu itu, untuk membebaskan tawanan maka harus dipenuhi dua syarat, yaitu
membayar tebusan sebesar 200.000 keping emas, dan tawanan muslim harus
memperbaiki salib suci. Ketika sampai akhir bulan (waktu yang ditentukan) uang
tebusan tidak dibayar, maka Raja Richard memerintahakn 2.700 tawanan itu unutk
dibunuh. Tindakan Richard ini jauh berbeda dengan perlakuan Salahuddin terhadap
para tawanannya di Yerussalem.
Pada mulanya Salahuddin meminta tebusan bagi beberapa ribu tawanan miskin
yang tidak bisa menebus dirinya sendiri. Namun atas permintaan saudaranya,
Salahuddin membebaskan ribuan tawanan miskin. Kemudian atas permmintaan Uskup,
tawanan yang lain juga dibebaskan. Mengingat bahwa saudaranya dan Uskup telah
berbuat kebaikan, maka ia pun terdorong untuk melakukan hal yang sama. Akhirnya
Salahuddin membebaskan sisa tawanan termasuk wanita dan anak-anak, tanpa
tebusan sama sekali.
Salahuddin Al Ayyubi dalam usaha membangun pemerintahannya lebih
mengutamakan kepentingan negara dan agama yaitu dengan cara mengganti pejabat
yang melakukan korupsi dan memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan dan pengalaman
yang dimiliki, ia mampu mengendalikan pemeintahan selama kurang lebih 22 tahun
dengan baik dan mendapat dukungan dari berbagai pihak.
Dengan demikian terdapat ibrah/pelajaran yang dapat diambil dari
mempelajari sejarah dan biografi Salahuddin Al Ayyubi untuk diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari, diantaranya sebagai berikut :
a. Kita harus
memiliki sifat as saja’ah (pemberani), terlebih dalam
menegakkan kebenaran
b. Kita harus memiliki jiwa pemurah dan
penyayang terhadap siapa saja, terutama kepada orang-orang lemah
c. Kita harus
bersikap tegas terhadap segala bentuk kemaksiatan dan kemungkaran
d. Kita harus mencintai ilmu baik ilmu
pengetahuan maupun ilmu agama denagn cara belajar dengan sungguh-sungguh dan
tekun
e. Kita harus
memiliki sikap toleransi terhadap siapa saja, selama dalam batas-batas yang
diperbolehkan agama
f. Kita harus
bersikap adil terhadap siapa saja
g. Kita harus memiliki jiwa perwira dan
ksatria
h. Kita harus menanamkan pada diri kita bahwa
semua yang kita lakukan dalam kehidupan ini semata-mata hanya untuk mencari
ridho Allah SWT
2. Salahuddin Al Ayyubi adalah seorang
perwira yang pemberani, adail, tegas, serta memiliki jiwa kesatria
Terhadap orang yang lemah atau mengaku kalah, ia akan menghormati dan
melindunginya. Namun sebaliknya, ia selalu tegas dalam menyikapi segala bentuk
pembangkangan dan pengkhianatan. Sifat ini terlihat ketika Salahuddin
memperlakukan para tawanannnya pada masa kota Yerussalem (Baitul Maqdis) jatuh
ke tangan umat Islam. Raja Yerussalem, Guy de Lusignan, menjadi salah satu
tawanan bersama pengusan Chattilom bernama Reginald yang terkenal dengan “si
perusak perdamaian”. Salahuddin memperlakukan secara berbeda. Hal ini
dikarenakan Reginald melanggar perjanjian.
3. Salahuddin adalah perwira sejati yang
mencurahkan segala upayanya semata-mata demi kejayaan agama Allah SWT dan
negara
Ia bukanlah tipe penguasa yang gila harta. Hal ini dapat dilihat setelah
penggulingan Dinasti Fathmiyyah, Salahuddin membagikan harta benda yang
dikumpulkan pemerintahannya kepada para nelayan dan tentara. Sedangkan untuk
dirinya sendiri, ia tidak menimpan harta apapun. Pada saat meninggal ia hanya
memiliki 17 dirham dan satu keping emas.
4. Salahuddin
adalah pemimpin yang cinta terhadap ilmu pengetahuan dan ilmu keagamaan
Hal ini dapat dilihat dari perhatiannya terhadap pendidikan, yaitu dengan
mendirikan madrasah-madrasah di negara yangia pimpin. Ia juga dikenal sebagai
pelindung para sarjana, intelektual dan ilmuwan serta selalu menyokong setiap
kajian yang dilakukan para ilmuwan dan ulama.
5. Salahuddin dikenal memiliki toleransi
yang tinggi terhadap umat agama lain
Hal ini dapat kita lihat ketika ia telah berhasil menguasai kota
Iskandariyah dan Yerussalem, ia selalu mengunjungi orang-orang Kristen dan
setelah tercipta perdamaian, ia memberi kesempatan dan mengizinkan orang-orang
Kristen untuk berziarah ke Yerussalem (Baitul Maqdis).
Potret sejarah diatas merupakan cerminan nyata bahwa Salahuddin adalah
sosok pemimpin yang memiliki jiwa perwira. Kebesaran namanya tidak membuatnya
bersikap semena-mena, meski terhadap musuh-musuhnya sekalipun. Tak diragukan
lagi, kita harus berupaya meneladaninya dengan menerapkan keteladanannya dalam
kehidupan sehari-hari.
D. Meneladani
Kepribadian dan Keperwiraan Salahuddin Al Ayyubi dalam Kehidupan Sehari-hari
Ada hal penting yang dapat diperoleh dari mempelajai
sejarah dan riwayat hidup Salahuddin Al Ayyubi. Diantaranya adalah mengikui
jejaknya sebagai seorang pemberani, bijaksana, toleransi, dan mencintai ilmu
pengetahuan.
Seperti diketahui bahwa Salahuddin Al Ayyubi kehidupannya
penuh dengan perjuangan dan peperangan. Hal itu dilakukan dalam menunaikan
tugas negara dan membela agama. Keberhasilannya diawali dengan menjadi seorang
tentara militer, perdana menteri, sampai menjadi penguasa Dinasti Ayyubiyah.
Salahuddin Al Ayyubi dalam usaha membangun pemerintahan
lebih mengutamakan kepentingan negara dan agama dengan cara mengganti pejabat
yang melakukan korupsi dan memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan dengan
mendirikan madrasah-madrasah.
Melalui bekal pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki,
Salahuddin Al Ayyubi mampu mengendalikan pemerintahan selama kurang lebih 22
tahun (1171 M – 1193 M) dengan baik dan mendapat dukungan dari banyak kalangan.
Dengan demikian terdapat ibrah yang dapat diambil dari
mempelajari biografi Salahuddin Al Ayyubi. Diantaranya adalah kita harus
mengikuti jejak langkah yang pernah dilakukan yaitu seorag pemberani menegakkan
kebenaran dan belajar berbagai ilmu, kita akan selamat didunia dan akhirat.
Selain itu jangan melupakan Yang Maha Kuasa karena
semuanya berasal dari Allah SWT. Jangan mengenal putus asa dan jangan sombong.
Jangan terjebak dengan materi keduniaan dan kemewahan hidup. Tokoh seperti
Salahuddin Al Ayyubi yang perlu diteladani oleh kita semua.
Komentar